Gerabah Bayat yang Membuat Kagum Profesor dari Jepang

0
861

Bagi yang berminat silahkan saja untuk mampir di desa Pagerjurang, kecamatan Bayat, kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini, agar kunjungan anda lengkap, silahkan bawa pulang oleh – oleh keramik-keramik cantik tersebut.

Dukuh Bayat, Desa Melikan, Kabupaten Klaten. Adalah sebuah dusun yang berlokasi sekitar 15 KM ke arah selatan kota Klaten, dusun yang terletak d Bayat tersebut terdapat pengrajin gerabah dan keramik yang menggantungkan mata pencahariannya dari berbagai kerajinan gerabah berbahan dasar tanah liat.

Ada beraneka ragam macam gerabah keramik yang disediakan di desa tersebut, ada seperti guci bermotif, gerabah keramik berbentuk hewan seperti gajah, singa, ayam, badak dan sebagainya, ada juga kursi gerabah, serta patung manusia, hingga gerabah – gerabah kecil lainya, ada juga rumbai-rumbai, hingga tungku untuk memasak. sangat bermacam-macam bentuk dari gerabah yang terbuat dari tanah liat ini.

Putaran Miring adalah teknik pembuatan gerabah dan keramik yang menjadi ciri seni gerabah Bayat. Teknik pembuatan gerabah dengan cetakan miring ternyata menarik perhatian Profesor Chitaru Kawasaki untuk melakukan penelitian sekitar tahun 1992. Begitu besar perhatian Ketua Jurusan Keramik Universitas Kyoto Seika ini pada teknik unik cetakan gerabah Bayat sehingga memberi bantuan pembangunan gedung Laboratorium Pusat Pelestarian Budaya Keramik Putaran Miring Melikan. Laboratorium yang diresmikan 14 April 2005 itu difungsikan sebagai sentra pengembangan teknik pembuatan gerabah dan keramik di Bayat.

Harga yang ditawarkan untuk kerajinan gerabah Bayat tersebut adalah dipastikan lebih murah jika dibandingkan dengan harga setelah gerabah Bayat tersebut masuk ke berbagai toko atau galeri di luar kota. Jika di salah satu toko di Solo menjual gerabah Bayat sekitar Rp50.000, maka gerabah yang sama dijual sekitar Rp20.000 di tempat asalnya dan harga itu masih bisa ditawar.

TINGGALKAN KOMENTAR