Kerajinan Tulang Bekas Mi Kocok Sudah Expor ke Jepang

0
240
kerajinan tulang kaki sapi

Keahlian membuat kerajinan tulang merupakan keahlian turun-temurun dari kakek dan ayahnya. Sejak masih remaja, Dadi Darmadi (47) sudah menekuni profesi tersebut.
Ditemui di rumahnya di Kampung Pasir Tukul, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Dadi tengah fokus membuat berbagai aneka kerajinan tangan. Kedua matanya tampak melihat secara detail kerajinan yang tengah ia buat.

Dadi duduk beralaskan kasur bekas di depan rumahnya. Kedua tangannya sangat hati-hati memotong tulang belulang dengan golok. Potongan tulang itu berbentuk bujur sangkar.
Potongan tulang lalu digergaji menggunakan gergaji kecil menjadi berbentuk aneka kerajinan, yakni sumpit, kujang mini, miniatur patung, gantungan kalung, dan lain-lain.

Kerajinan tulang itu ia lubangi dengan bor untuk mempercantik kerajinan serta sebagai tempat untuk memasukkan tali kalung atau besi gantungan.
Uniknya, tulang yang ia gunakan untuk membuat aneka kerajinannya adalah tulang sapi bekas rebusan kuah mi kocok atau bakso. Untuk memperoleh bentuk yang pas, ia hanya menggunakan tulang sapi bagian kakinya.

“Ini tulangnya bekas mi kocok. Tapi yang saya pakai bagian kakinya. Karena kalau kaki itu ketebalan tulangnya dan bisa dibentuk apa saja,” ujar Dadi ketika diajak berbincang oleh Tribun, Minggu (5/1).

Dadi sengaja membeli tulang sapi bagian kakinya ke sejumlah pedagang mi kocok di wilayah Bandung Raya. Alasannya, ia tak perlu merebus lagi tulang kaki sapi tersebut sebelum dijadikan kerajinan.

Jika tulang kaki itu tak direbus terlebih dahulu, katanya, ia harus bekerja ekstrakeras memotong, menggergaji, dan mengebor tulang tersebut.

“Tulang mentah itu keras. Susah dipotong. Jadi, mengakalinya, ya, beli yang sudah direbus bekas mi kocok. Irit biaya dan waktu juga,” ujarnya.
Satu tulang kaki sapi yang ia beli dari pedagang mi kocok hanya Rp 500. Dari satu tulang kaki sapi ia bisa membuat sekitar enam buah kujang mini, beberapa miniatur patung, beberapa bandul kalung, atau empat buah pasang sumpit.

Dalam sehari, untuk jenis kerajinan seperti kujang mini dan bandul, ia mampu membuat sebanyak lima kodi. Satu kodinya ia hargai Rp 30 ribu. Kerajinan tersebut masih dalam keadaan mentah belum di-finishing, seperti dipernis.

“Jualnya ke pengepul. Enggak dijual eceran. Itu juga masih mentah, kok. Belum di-finishing kayak diwarna atau dipernis. Pengepulnya biasanya langsung ke sini atau saya kirim, soalnya ada link-nya,” kata dia.
Dalam satu bulan dengan keahliannya itu, ayah dari Putri Diah Maulida (20) ini bisa meraup omzet belasan juta rupiah. Selain di Indonesia, kerajinan buatannya sudah terjual hingga ke luar negeri, termasuk Prancis, Malaysia, Singapura, Jepang, Brunei Darussalam, dan sebagainya.

Baca juga : Pisau Karya A Friyana Wiradikarta Sampai ke Luar Negeri

Meski mendulang kesuksesan, Dadi, yang sudah berprofesi pembuat kerajinan tulang sejak 35 tahun lalu, tak pelit ilmu. Dadi menularkan keahliannya ke anak muda di kampungnya. Alhasil, saat ini banyak pemuda di kampungnya yang juga memiliki profesi yang sama dengannya.

“Tapi untuk penjualannya, saya yang tangani. Karena link mereka belum besar. Saya juga ingin para pemuda di sini berkreativitas dan tidak menganggur. Makanya saya ajarin juga,” kata dia.
Meski keahliannya merupakan turun-temurun dari kakek dan ayahnya, ia merasa bangga bisa menularkannya kepada orang lain. Ia berharap anaknya kelak juga mampu meneruskan keahliannya itu.

“Ya, penginnya sih nanti anak bisa nerusin usaha dan keahlian saya ini. Jadi, tidak putus di saya. Karena saya bisa seperti ini, ya, cuma gara-gara ini saja,” kata pria yang gemar olahraga bulu tangkis ini sambil menutup perbincangan.

 

Sumber : http://jabar.tribunnews.com

TINGGALKAN KOMENTAR