Kreasi Agung berawal dari keinginan keras memberi nafkah keluarga

0
498
kreasi agung

Jawa Tengah – Siapa yang mengira kreasi miniatur motor harley davidson seharga Rp 500 ribu hasil bikinan Agung Setia Budi berasal dari barang bekas. Dengan menggunakan barang-barang bekas di sekitarnya Agung menyulapnya menjadi kerajinan tangan menarik dan usahanya kini diberinama Nekatzzcraft.

Di sebuah rumah tidak jauh dari Kawasan Pasar Johar Kota Semarang, Agung membuat bermacam miniatur dari barang-barang bekas seperti kartu perdana telepon seluler, kardus, sampah plastik dan jam tangan yang tidak terpakai yang kemudian disulap menjadi miniatur vespa, pesawat, tank, harley davidson dan lainnya.

“Bahannya dari bungkus kartu perdana, kardus, jam tangan bekas. Dulu jam tangan bekas mudah didapat di Pasar Johar, tapi sekarang agak susah,” ungkap Agung saat ditemui di Rumahnya, Rabu (28/12).

Kerajinan hasil kreatifitasnya ini ia pasarkan melalui media sosial seperti facebook. Pelanggannya sendiri berasal dari berbagai kota di Indonesia. Sementara pelanggan yang dari Semarang, diakui olehnya, malah sedikit. Saya posting di facebook terus banyak yang pesan, ada yang dari Surabaya, Bandung, Jakarta juga ada dari Makassar,” tuturnya.

Sebuah miniatur sepeda motor vespa yang ia buat dari bahan bungkus perdana telepon seluler bekas, dapat dijual dengan harga mencapai Rp200 ribu. Hasil penjualannya tersebut, sebagian digunakan untuk operasioal Komunitas Harapan, sebuah komunitas yang ia dirikan untuk mewadahi anak-anak di daerah Pasar Johar untuk belajar dan bermain. “Kuncinya harus nekat, berbuat baik harus nekat, itu prinsip saya,” katanya.

Ia memulai membuat kerajinan tangan ini sejak tiga tahun lalu, saat itu tepat paska sembuh dari sakit yang membuat kaki kanannya harus diamputasi. Berawal dari keinginan kerasnya untuk tetap menghidupi keluarga, tiba-tiba ia melihat bungkus perdana bekas di sebelahnya kemudian muncul inspirasi untuk membuat kerajinan tangan.

“Pas selesai berdoa, saya melihat di samping saya ada kartu perdana dan kemudian muncul inspirasi. Tidak ada yang ngajari tidak ada gambar, pertama saya bikin langsung jadi,” kisahnya.

Dari kreatifitasnya ini, ia kini juga mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri, sebagai pengajar siswa-siswa tuna rungu pelajaran ketrampilan. Di rumahnya kini dipenuhi dengan penghargaan dari berbagai tempat atas kreatifitasnya dan dedikasinya membangun Konunitas Harapan. “Itu silahkan anda baca sendiri,” katanya sambil menunjuk sejumlah piagam penghargaan yang memenuhi tembok rumahnya, waktu ditanya dapat penghargaan dari mana saja.

“Kuncinya harus nekat, berbuat baik harus nekat, itu prinsip saya,” katanya.

sumber: http://jateng.merdeka.com

TINGGALKAN KOMENTAR