Vitri Devid Raup Omzet Rp 50 Juta/Bulan dari Kerajinan Kayu Jati

0
478
kerajinan kayu jati

Saat ini makin banyak para pengrajin kerajinan kayu jati yang menjual souvenir dan interior rumah tangga. Hal yang membedakan antara pengrajin satu dengan lainnya adalah metode pembuatannya.

Seperti pemilik Kaemara Danastri dari Blora, Vitri Devid yang menyatakan bahwa keunggulan produknya ada di proses finishing produk. Dari segi proses akhir, produknya menyemprotkan cairan impra pelapis kayu agar lebih tahan lama sehingga kualitasnya terjamin.

“Kan banyak sih pengrajin harus cari produk sendiri karena pengrajin itu finishing-nya beda-beda,” kata Vitri .

Menurutnya, dari segi proses akhir atau finishing dapat mempengaruhi harga jual produk. Perbedaan harga yang dimaksud misalnya produk ukuran besar bisa berbeda Rp 200-300 ribu sedangkan yang berukuran kecil bisa berbeda Rp 20-30 ribu per/unit.

Ini dikarenakan cairan impra sebagai pelapis kayu yang dapat disemprot berkali-kali lebih dari 5 kali sehingga tidak mudah rusak seperti tergores atau pun terkupas.

“Finishing impra dan dilapisi berkali-kali impra berkali-kali nggak cuma sekali, supaya dia tahan gores, kena lembab aman, bisa kena air, kan ada kayu yang suka ngeletek (mengelupas) kalau digores kadang ditempelkan label saja ada yang terkelupas kayunya,” imbuhnya.

Di antara produk kerajinan kayu jati yang ia jual adalah kotak tisu, tempat tisu, stationary, lampu meja, kaligrafi, kaca, dan lainnya.

Ia memulai bisnis kerajinan kayu jati dengan meneruskan usaha orang tuanya, awalnya dengan modal sekitar Rp 40 juta, hal itu karena kayu yang dibeli Rp 14 juta per kubik.

“Modal berjalan sekitar Rp 40 juta juta karena kayu satu kubik itu Rp 14 juta paling dibagi-bagi bisa puluhan produk dan beberapa model item. Kita beli kayunya dari Perhutani,” kata Vitri.

Saat ini omzet yang didapatnya mencapai Rp 40 juta -Rp 50 juta per bulan. Selain memasarkan produknya melalui pameran, produknya juga banyak dijual untuk souvenir pengantin, hotel, dan perkantoran.

“Sekarang omzet rata-rata 40-50 juta/bulan. Soalnya terima order dijual ritel, keliling pameran di Jakarta hingga Pontianak,” imbuhnya.

Selain itu produknya pernah diekspor meskipun melalui buyer orang Indonesia yang dikirim ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Jerman.

“Ekspor sudah tapi tidak secara langsung, biasanya yang printilan seperti tempat tisu, name card, pesannya ratusan unit waktu itu nilainya sekitar Rp 38 juta dibawa ke Jerman,” imbuhnya.

“Setiap hari selalu ada event pameran keliling mall kalau nggak di Jakarta atau mall Semarang,” ujarnya

Harga jual produknya dalam range Rp 35.000 – Rp 4 juta. Saat ini karyawannya baru berjumlah 6, tetapi pengiriman produknya telah mencapai Surabaya, Semarang, Pontianak, Makasar, Batam, Kalimantan, Batam, Serang, Jakarta, dan lainnya.

Saat ini dia baru memiliki 1 tempat workshop yang bergabung dengan tempat produksi di Jl Gunandar No 8! Blora, Semarang, Jawa Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR