Kerajinan Miniatur Lokomotif Dari Limbah Elektronik

0
909
pengrajin miniatur lokomotif

Banyak orang sering memanggilnya, Pak Sulkan, dia adalah seorang kakek yang tinggal di Malang, Jawa Timur. Kurang lebih 2 minggu waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan miniatur kereta pertamanya. Nyaris mirip dengan miniatur lokomotif bermerek Sugarpine Railroad Engine dari Amerika Serikat.

Diawali dari hobinya sejak 2007 membuat miniatur serta tidak memiliki background sebagai lulusan insinyur dari bidang teknik. Pak Sulkan hanyalah sosok umumnya pekerja yang pernah menimba pengalaman dalam profesinya sebagai pengrajin kayu.

Membentuk sesuatu yang masih samar, hingga kemudian pilihan hasil terbaik menjadi prioritas. Uniknya lagi, bahan baku yang diperoleh berasal dari limbah sampah elektronik.

Cita-cita Sejak Kecil

Semula Pak Sulkan bekerja sebagai penjual alat-alat listrik dan elektronik, sekaligus rajin mengisi waktu untuk menciptakan miniatur truk. Ujarnya tentang kondisi saat itu, “Alhamdulillah banyak yang suka, meskipun harga Truk bikinannya lebih mahal dari miniature Truk yang di jual di tempat lain, Truk bikinannya tetap banyak yang suka karena desainnya tidak asal-asalan dan bagus menyerupai Truk sesungguhnya.”

Hingga suatu saat, ia mengantar anaknya yang berniat untuk bekerja di Jakarta pada tahun 2008. Tentu rute perjalanan tersebut melewati kota Ambarawa. Sudah berkali-kali sih ia memperhatikan, tapi saat itu rasanya terlihat berbeda. Kreasi miniatur lokomotif yang terdapat di stasiun Ambarawa sejenak membuatnya tidak bisa tidur. Lokomotif itu sangat memberikan kesan di hati dan menginspirasikan dia untuk membuat miniaturnya. Mungkin karena sejak kecil ia memiliki cita-cita menjadi masinis. “Tapi nggak kesampaian,” katanya kepada Harian Radar Malang (31/12/2016).

Ketika sudah tiba kembali ke tempat tinggalnya di Jl. Raya Pakis Jajar No. 103, Kabupaten Malang, kakek dari 3 cucu selekasnya mencari semua yang dibutuhkan melalui Internet. Terus melatih diri, dan menggunakan, “Ya, seadanya (bahan) yang ada di sekitar saya,” tambahnya. Dia pun mulai meninggalkan usaha pembuatan miniatur truck. Alasannya, harga jual miniatur truk yang dimilikinya terbukti lebih mahal dibanding pesaing. Jadi, kemungkinan kurang laku pun cukup besar.

Semua Bahan Berasal dari Limbah

Akhirnya benar juga keputusan dia saat beralih produksi. Semua hasil kerja keras secepatnya menghasilkan perubahan yang cukup signifikan. Peluang pasar yang digadang-gadang lebih baik. Ternyata berhasil terbentuk. Minat konsumen untuk membeli, kian memperlihatkan peningkatan dari hari ke hari.

Ternyata melalui dasar keahlian mengutak-atik, serta pengalaman membuat miniatur truk sebelumnya, dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun ketika membuat miniatur lokomotif. Jelasnya kepada Harian Cendana News, “Saya harus pandai-pandai berimajinasi dan mencocokkan di posisi mana barang bekas tersebut harus di letakkan agar terlihat sesuai dengan aslinya.” Bermodal ompolong atau kaleng susu bekas yang ia dapatnya darti tetangga depan rumah. Kebetulan sang tetangga jualan es campur. Omplong tersebut digunakan untuk membentuk body lokomotif, yang kemudian diatasnya ia tempeli bekas microphone untuk ujung pembuang uap. Dia mengaku tidak gampang untuk mengkreasikannya, karena bentuk dari sumber daya barang dan ukuran yang tidak sesuai.

Lantas, sempat ia melakukan kerjasama dengan saudaranya yang tinggal di Bali. Suami dari keponakannya lah yang menampung miniatur buatannya. Namun entah mengapa, “Pertama keuangan enak, lama-lama lha kok nyantol.” Menghadapi kenyataan tersebut, ia tidak membiarkan dirinya untuk terlena pada keadaan pun tidak berhenti di situ saja. Perencanaan kerja berikutnya lebih berani untuk memperluas pangsa pasar dengan mengikuti berbagai pameran yang diselenggarakan, seperti: Tunjungan Plaza, Surabaya; Pameran di Malang Tempo Doeloe (MTD), dan pameran di stadion Kanjuruhan.

Seiring dengan itu! Kesabaran, ketekunan, dan ketelitian nya membuahkan hasil. Wisatawan asing pertama yang membeli kreasinya berasal dari Negara Australia saat pameran Malang Tempo Doeloe (MTD) dan yang kedua, turis dari Negara Amerika Serikat. Berawal dari apresiasi turis-turis tersebut, Pak Sulkan lantas semakin bersemangat dan bertekad untuk lebih mendalami pembuatan miniatur lokomotif.

Pilihannya untuk total menjadi seniman pembuat miniatur kereta berbuah manis. Sebut saja Bupati Malang, Rendra Kresna pernah membeli produk olahannya sewaktu pameran di Stadion Kanjuruhan. Belum lagi kehadirannya pada berbagai acara televisi, seperti Entermizo, Cita-citaku, dan acara si Bolang.

Tiap membuat miniatur lokomotif, semuanya dia kerjakan sendiri dan memiliki ciri khas sengaja dibuat untuk tidak bisa berjalan. “Untuk memasarkan kereta ini, saya hanya mengalir saja. Kalau kebetulan waktu ikut pameran ada yang suka dan mau beli ya saya lepas, begitupun kalau ada orang ke sini beli alat listrik lalu melihat miniatur ini dan suka ya silahkan di beli,” pungkasnya.

Harga yang ditawarkan pun cukup bersaing. Berdasarkan tingkat kerumitan setelah dikerjakan selama 7 hari, lokomotif memiliki panjang 60 cm di patok dengan harga sebesar Rp. 700 ribu dan ukuran 30 cm ditawar Rp. 700 ribu. Sementara untuk ukuran yang lebih besar lagi, harganya Rp. 1,5 juta per satu meter.

dikutip dari http://kertasbiasa.blogspot.co.id/2016/10/miniatur-lokomotif-dari-sampah-pak.html

TINGGALKAN KOMENTAR